Social Items

Showing posts with label Agama Islam. Show all posts
Showing posts with label Agama Islam. Show all posts

Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT. yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Al-Mu'min. Al-Mu'min artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Pemberi Rasa Aman. Berikut adalah dalil tentang Al-Mu'min dalam surah Al-An'am ayat 82:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kita harus meneladani sifat Allah yaitu salah satunya adalah Al-Mu'min yang artinya Maha Pemberi Rasa Aman. Berikut adalah cara meneladaninya:

(1). Berusaha Senantiasa Menjaga Ketentraman dan Ketenangan di Lingkungan
Menjaga ketentraman dan ketenangan dimanapun tempatnya merupakan kewajiban kita. Cara kita menjaganya adalah sesama warga harus saling menghormati dan menghargai, jangan saling mencela satu sama lain, mematuhi norma dan peraturan yang berlaku, dan tidak melanggar peraturan di lingkungan tersebut. Kita juga bisa mengikuti Siskamling untuk menjaga keamanan lingkungan.

(2). Tidak Mengganggu Orang Lain
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya, ‘Siapa ya Rasulullah saw.?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya.’"

(3). Senantiasa Mendekatkan Diri kepada Allah
Dengan mendekatkan diri kepada Allah, seperti menjalankan shalat 5 waktu, menjalankan shalat sunnah, mengaji, berpuasa, berzakat, dan lainnya, kita bisa mendapatkan ketenangan hati. Sesungguhnya rasa aman yang kita peroleh itu datangnya hanya dari Allah. Ada orang yang merasa tidak aman walaupun situasinya aman dan tentram, dan sebaliknya ada orang yang merasa tenang/tidak gelisah walaupun situasi dalam keadaan genting dan kacau.

(4). Menjadi Orang yang Beriman dan Selalu Beramal Shalih
Firman Allah dalam surah An-Nur ayat 55:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Sekian tulisan kecil dari saya, semoga bermanfaat dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Mu'min dalam Kehidupan Sehari-hari


Sifat Asmaul Husna As-Salam dalam Kehidupan Sehari-hari Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT. yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut As-Salam. As-Salam artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Sejahtera atau Maha Pemberi Keselamatan. Kali ini kita akan membahas mengenai As-Salam, sifat Allah yang Maha Sejahtera. Berikut adalah dalil tentang As-Salam dalam surah Al-Hasyr ayat 23:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Artinya: Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Kita harus meneladani sifat Allah yaitu salah satunya adalah As-Salam yang artinya Maha Sejahtera atau Maha Pemberi Keselamatan. Bagaimana cara kita meneladaninya?

(1). Membantu Orang dengan Ikhlas
Membantu orang bisa bermacam-macam, kita bisa memulainya dari hal yang kecil (sepele) terlebih dahulu. Misalnya, kita membeli dagangan di pedagang kecil (terutama orang yang tua), mengajarkan sedikit ilmu kepada orang lain, membagi info lowongan kerja di grup chat, dan lain-lain.

(2). Menebarkan Salam dan Senyum
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa "Islam yang baik adalah yang memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal". Banyak sekali orang yang menyepelekan mengucapkan salam, padahal mengucapkan salam termasuk hal yang wajib dan dianjurkan. Misalnya, kita memasuki suatu rumah atau berpapasan dengan teman, disitulah kita harus mengucapkan salam. Selain itu, jangan lupa untuk selalu tersenyum, karena senyum merupakan suatu sedekah dan bisa membuat orang lain disekitar menjadi ikut bahagia.

(3). Tidak Mencela atau Menghina Orang
Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al-Hujuraat ayat 49:
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
"Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)" 

Dalam surah diatas disebutkan bahwa kita tidak boleh saling memanggil orang dengan julukan yang buruk dan mengandung celaan. Misalnya, ada teman kita yang gendut dan kita memanggilnya dengan julukan "gentong". Mungkin sebagian orang mengira itu hanya candaan, tetapi kita tidak mengetahui isi hati orang yang dijuluki julukan tersebut. Bisa saja dia merasa sakit hati karena dipanggil dengan julukan tersebut.
Sebaiknya dianjurkan kita memanggil dengan julukan yang baik dan mengandung pujian. Misalnya memanggil orang lain dengan sebutan "yang mulia","yang 'alim (berilmu)", dan sebagainya.

Sekian tulisan kecil dari saya, semoga bermanfaat dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat yang salah.

Baca Juga :

Sifat Al Mu'min

Sifat Asmaul Husna As-Salam dalam Kehidupan Sehari-hari


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ
"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tahukah kalian apakah ghibah itu?". Sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui". Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam berkata: "Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu", Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam ditanya: "Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya?". Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar berarti engkau telah berdusta atasnya" [Muslim no 2589].
Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah ini adalah engkau menyebutkan kekurangan saudaramu (yang ada pada badannya, nasabnya, akhlaqnya, perbuatannya, agamanya, atau masalah duniawinya), dan menyebutkan aibnya tersebut dihadapan manusia dalam keadaan dia ghaib (tidak hadir).

Adapun menyebutkan kekurangannya yang ada pada badannya, misalnya engkau berkata pada saudaramu itu: "Dia juling", "Dia hitam", "Dia pendek", "Dia gendut", "Dia jelek", dan lain sebagainya.
Dari Aisyah beliau berkata: Aku berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam: "Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu". Sebagian rowi berkata: "Aisyah mengatakan Sofiyah pendek". Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam berkata: "Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya".
Adapun pada nasab misalnya engkau berkata: "Dia keturunan pezina", "Bapaknya adalah seorang maling", dan lain-lain. Adapun pada akhlaknya, misalnya engkau berkata: "Dia sombong", "Dia tukang cari muka", "Dia itu orangnya menyebalkan", dan lain-lain. Adapun pada agamanya, misalnya engkau berkata: "Dia itu orang yang dzolim, tidak pernah salat", "Dia kalau shalat sangat cepat sekali", dan lain-lain. Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan, misalnya engkau berkata: "Dia rakus banyak makan", "Dia orangnya jorok", "Saya lebih suka temenan sama fulan daripada sama dia", dan lain-lain.

Termasuk ghibah yaitu seseorang meniru-niru orang lain, misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau berbicara dengan pura-pura sumbing, yang dalam hal ini berarti merendahkan dia.

*Hukuman Bagi Pelaku Ghibah*
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Maka aku bertanya: "Siapakah mereka ya Jibril?", beliau berkata: "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia".
 Az-Zarkasyi berkata: "Dan sungguh aneh orang yang menganggap bahwasanya memakan bangkai daging (manusia) sebagai dosa besar (tetapi) tidak menganggap bahwasanya ghibah juga adalah dosa besar, padahal Allah menempatkan ghibah sebagaimana memakan bangkai daging manusia. Dan hadits-hadits yang memperingatkan ghibah sangat banyak sekali yang menunjukkan akan kerasnya pengharaman ghibah".

Coba kita pikir lagi, apa gunanya mengghibahi seseorang? Yang ada kita mendapatkan dosa besar, di neraka mendapatkan siksa, dan mencelakakan orang lain (membuat nama buruk orang yang dighibahi serta membencinya). Kita hindari saja ghibah ini, kita bicarakan saja kebaikan orang lain, jangan keburukannya.

*Hukum Mendengarkan Ghibah*
Berkata Imam Nawawi dalam Al-Adzkar: "Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang mengghibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai mengghibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika memungkinkan hal itu".

*Ghibah yang Diperbolehkan*
1). Pengaduan, diperbolehkan bagi orang yang teraniaya mengadu kepada penguasa untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya. Maka dia (boleh) berkata: "Si fulan telah menganiaya saya demikian-demikian".
2). Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku kemaksiatan kepada kebenaran. Maka dia (boleh) berkata kepada orang yang diharapkan kemampuannya bisa menghilangkan kemungkaran: "Si fulan telah berbuat demikian, maka hentikanlah dia dari perbuatannya itu". Dan hendak tujuannya adalah sebagaimana sarananya untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah haram.
3). Meminta fatwa. Misalnya dia berkata kepada seorang mufti: "Bapakku telah berbuat dzolim kepadaku, apakah dia mendapatkan hukuman ini? dan bagaimanakah jalan keluar dari hal ini, agar hakku bisa aku peroleh dan terhindar dari kedzoliman".
4). Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan.
Hingga dikatakan kepada Imam Ahmad: "Seorang laki-laki puasa, shalat, dan beri'tikaf lebih engkau sukai atau membicarakan tentang (kejelekan) ahlul bid'ah?". Maka beliau menjawab: "Jika laki-laki itu shalat dan i'tikaf maka hal itu (kemanfaatannya) adalah untuk dirinya sendiri, dan jika dia membicarakan (kejelekan) ahlul bid'ah maka hal ini adalah demi kaum muslimin, maka hal ini (membicarakan kejelekan ahlul bid'ah) lebih baik".
5). Ghibah dibolehkan kepada seseorang yang terang-terangan menampakan kefasikannya atau kebid'ahannya. Seperti orang yang terang-terangan meminum khamr, mengambil harta manusia dengan dzolim, dan lain sebagainya.

6). Untuk pengenalan. Jika seseorang terkenal dengan suatu laqob (gelar) seperti Al-A'masy (si rabun) atau Al-A'aroj (si pincang), dan yang selainnya maka boleh untuk disebutkan. Dan haram disebutkan dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk mengenali mereka (tanpa harus menyebutkan cacat mereka) maka cara tersebut lebih baik.

Berkata Syaikh Salim Al-Hilali:
a). Bolehnya ghibah untuk hal-hal di atas adalah sifat yang menyusul (bukan hukum asal), maka jika telah hilang 'illahnya (sebab-sebab yang membolehkan ghibah), maka dikembalikan hukumnya kepada hukum asal yaitu haramnya ghibah.
b). Dibolehankannya ghibah ini adalah karena darurat. Oleh karena itu ghibah tersebut diukur sesuai dengan ukurannya (seperlunya saja). Maka tidak boleh berluas-luas terhadap bentuk-bentuk di atas. Bahkan hendaknya orang yang terkena darurat ini (sehingga dia dibolehkan ghibah) untuk bertaqwa kepada Allah dan janganlah dia menjadi termasuk orang-orang yang melampaui batas.

*JADI APA GUNANYA GHIBAH (MEMBICARAKAN ORANG LAIN)?*
Jawabannya tidak ada. Sama sekali tidak ada.

*Akibat dari Ghibah*
1). Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian, karena pahala amal kebaikannya dia berikan kepada orang yang menjadi sasaran ghibahnya.
2). Mengakibatkan putusnya ukhuwah, rusaknya kasih sayang, timbulnya permusuhan, tersebarnya aib, lahirnya kehinaan, dan timbulnya keinginan untuk menyebarkan post keburukan orang lain tersebut.
3). Mendapatkan adzab Allah SWT yang sangat pedih.
4). Kerasnya hati.

Sumber:
a). Buku "Bencana Ghibah" karya Al-Ustadz Ibnu 'Abidin As-Soronji
b). Violetfrostsky atas jawabannya dari Brainly.com

Apa Gunanya Ghibah (Membicarakan Keburukan Orang Lain)?

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Quddus dalam Kehidupan

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Quddus dalam Kehidupan Asmaul Husna adalah nama yang baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT, yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Al-Quddus. Al-Quddus artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Suci. Kali ini kita akan membahas mengenai Al-Quddus, sifat Allah SWT yang Maha Suci. Berikut adalah dalil tentang Al-Quddus pada Al-Hasyr ayat 23:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Artinya: Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Kita harus meneladani sifat Allah yaitu salah satunya adalah Al-Quddus yang artinya Maha Suci. Artinya kita harus bisa mensucikan diri kita dan juga mensucikan nama Allah SWT. Karena Allah SWT sangat menyukai kebersihan dan kesucian. Maka wajib kita untuk selalu suci baik diri kita ataupun lingkungan sekitar kita.

Allah SWT menyuruh kita untuk selalu bersuci dan membersihkan diri, terutama dari najis. Maka dari itu kita diwajibkan berwudhu/bertayamum sebelum shalat. Untuk menghadap Allah SWT, tubuh kita harus bersih dari kotoran dan najis, karena Allah adalah Tuhan yang menciptakan kita, maka dari itu kita harus mensucikan diri dan hati kita saat beribadah kepada-Nya.

Mensucikan diri tidak selalu identik dengan membersihkan najis atau kotoran. Tetapi mensucikan jiwa dan raga dari dosa, dengan cara membersihkan hati kita dari perbuatan keji, dan maksiat, atau juga membersihkan lisan kita dari dusta, perkataan yang buruk dan yang menyakiti hati orang lain.

Selain mensucikan jiwa dan raga, kita juga mesti mensucikan pikiran kita dari niat buruk. prasangka buruk dan nafsu yang kotor. Karena niat yang buruk akan menghasilkan kejahatan dan nafsu yang kotor akan menghasilkan kemaksiatan. Maka dari itu pikiran pun harus kita bersihkan dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan merusak diri kita.

Kita juga harus mensucikan Allah SWT yaitu dengan cara menghindari dari segala sifat yang menunjukkan kekurangan dan celaan yang tidak pantas bagi-Nya. Lalu juga selalu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya dan meniadakan sifat-sifat ketidaksempurnaan bagi-Nya.

Hendaknya kita juga harus senantiasa bertasbih kepada Allah SWT dengan mengucapkan "Subhanallah Wa bihamdihi Subhanallahil Adzim" yang artinya "Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung". Karena dengan bacaan itu juga kita bisa selalu mensucikan nama baik Allah SWT.

Kita harus berterimakasih kepada Allah SWT dan selalu memuji-Nya, karena Dia-lah yang yang telah mensucikan diri kita dari aib dan kekurangan. Walaupun manusia adalah tempatnya salah, lupa, dan selalu berbuat dosa. Maka dari itu kita harus menjadi muslim yang beriman dan bertakwa. Setiap melakukan kesalahan, kita harus mengintropeksi diri kita. Lalu juga selalu bertaubat kepada Allah agar diri kita disucikan dari segala dosa yang selalu menyelimuti.

Sekian tulisan kecil dari saya, semoga bermanfaat untuk kalian semua dan semoga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat. Saya ucapkan terimakasih.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Quddus dalam Kehidupan


Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT, yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Al-Malik. Al-Malik artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Merajai/Menguasai. Kali ini kita akan membahas mengenai Al-Malik, sifat Allah SWT yang Maha Merajai. Berikut adalah dalil tentang Al-Malik pada Al-Jumuah ayat 1:
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Artinya: Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sifat Al-Malik yang berarti Menguasai biasa ditujukan kepada penguasa di bumi. Jikalau kita menjadi pemimpin, kita harus memiliki sifat Al-Malik. Menjadi pemimpin dengan baik dan benar, tidak sombong dan sewenang-wenang jika memimpin. Karena sifat sombong dan sewenang-wenang akan dibenci oleh Allah SWT.

Kita juga harus menyadari bahwa kekuasaan manusia sangatlah terbatas. Karena pada akhirnya kekuasaan tersebut akan digantikan oleh orang lain, tidak seperti kekuasaan Allah SWT yang bersifat abadi. Karena Dia-lah yang menguasai alam semesta beserta bumi seisinya atau segalanya. Jadi kita pun adalah milik Allah SWT, jadi Dia-lah yang berhak memerintah atau melarang sesuatu.

Selain itu juga kita harus menguasai diri kita sendiri, menguasai dari hawa nafsu dan hal-hal yang bersifat keduniawian. Karena dunia ini semuanya hanyalah sandiwara dan penuh tipu daya. Jangan sampai kita tergila-gila dengan kedudukan atau jabatan, karena kedudukan atau jabatan di dunia tidak mempengaruhi kedudukanmu di akhirat kelak.

Selain menguasai diri dari hawa nafsu, kita juga harus menguasai diri dari amarah. Karena sifat amarah sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Kecuali jika marah dalam hal yang baik, seperti orangtua yang marah jika anaknya tidak shalat, atau marah yang dilakukan untuk membela agama.

Sebagai pemimpin atau penguasa, ia juga harus bisa menguasai diri sendiri terlebih dahulu. Karena jika tidak dapat menguasai diri sendiri, maka kekuasaannya bisa jatuh ketangan orang lain. Agar dapat menguasai diri, kita harus banyak bersyukur atas segala hal yang diberikan oleh-Nya, baik itu rezeki atau kenikmatan. Karena tanpa kehendak-Nya, kita tidak berarti apa-apa.

Kesimpulan dari semua ini, kita harus bisa menguasai diri sendiri karena menguasai diri sendiri itu lebih sulit daripada menguasai orang lain. Belum tentu seorang pemimpin dunia bisa menguasai dirinya sendiri. Karena masih banyak pemimpin di dunia ini yang bersifat sewenang-wenang, arogan, tidak peduli pada rakyatnya, dan lain-lain. Oleh karena itu sifat kepemimpinan itu sangat penting bagi diri kita.

Sekian tulisan kecil dari saya, semoga bermanfaat untuk kalian semua dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat. Saya ucapkan terimakasih.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Malik dalam Kehidupan Sehari-hari


Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT. yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Ar-Rahiim. Ar-Rahiim artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Penyayang. Kali ini kita akan membahas mengenai Ar-Rahiim, sifat Allah SWT. yang maha penyayang. Berikut adalah dalil tentang Ar-Rahiim pada Al-Ahzab ayat 43:
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
 Artinya: Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Banyak yang mengatakan bahwa arti dari Ar-Rahman dan Ar-Rahim itu hampir sama. Tetapi ada perbedaan sedikit mengenai hal itu. Kalau Ar-Rahman (Maha Pengasih) yaitu meliputi seluruh makhluk hidup baik yang beriman atau kafir, seperti Allah memberi alam semesta ini untuk hidup. Kalau Ar-Rahim (Maha Penyayang) lebih meliputi ke hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh.

Allah memiliki sifat Dzat Maha Penyayang, maka dari itu kita juga harus memiliki sifat penyayang tersebut. Kita harus menyayangi sesama manusia, atau hewan, dan tumbuhan. Kita juga harus menyayangi Allah SWT. dengan cara beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Kita diciptakan oleh Allah SWT. itu merupakan sebuah anugerah dan rasa sayang-Nya kepada kita semua, maka itu kita wajib beriman kepada-Nya.

Banyak sekali contoh-contoh perilaku Ar-Rahiim, seperti:
(1). Menyayangi sesama antar manusia, seperti menyayangi keluarga, menyayangi teman, menyayangi tetangga. Kalau ada saudara kita yang sakit kita harus menjenguknya, kalau ada saudara kita yang sedih kita harus menghiburnya, dan kalau saudara kita melakukan kesalahan kita harus mengingatkannya sebagai rasa kasih sayang kita kepada mereka.
(2). Menyayangi hewan seperti memberikan makan hewan setiap hari, kalau hewan peliharaan kita sakit kita harus membawanya ke dokter, dan kalau hewan kita diberi kandang kita harus merawat kandang tersebut hingga bersih dari kotoran.
(3). Rasa sayang kepada lingkungan seperti menjaga lingkungan hingga bersih, terus merawat lingkungan, merawat pohon-pohon yang ada, memungut sampah ke tong sampah.
(4). Menyayangi tumbuhan dengan cara merawatnya.

Dan banyak lagi contoh lainnya, selain perilaku tersebut kita juga harus menyayangi diri sendiri, selalu berprasangka baik kepada diri sendiri, berperilaku terpuji kepada diri sendiri. Karena dengan mencintai diri sendiri kita akan merasa bahagia dan terlepas dari dengki/iri.

Kesimpulan dari semua ini, kita jadi lebih bisa menyayangi siapapun di dunia ini baik itu kepada Allah SWT, sesama manusia, hewan, tumbuhan, lingkungan, atau diri kita sendiri. Semoga kita semua dipermudah untuk meneladani sifat Ar-Rahiim ini. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Ar-Rahim dalam Kehidupan Sehari-hari


Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam, yang juga merupakan sumber hukum utama dalam ajaran agama Islam. Al-Qur'an berisi tentang wahyu-wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantaraan Malaikat Jibril. Berikut adalah 35 fakta istimewa tentang Al-Qur'an yang wajib kamu ketahui!

1). Kata Al-Qur'an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan".

2). Ayat Al-Qur'an diturunkan pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira yaitu Al-'Alaq ayat 1-5 (Wahyu pertama Rasulullah SAW).

3). Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

4). Al-Qur'an mempunyai beberapa nama lain yaitu, Al-Furqan (pembeda mana yang baik dan benar), Adz-Dzikr (pemberi peringatan), Al-Huda (petunjuk), Asy-Syifa (penyembuh/penawar), Al-Kitab, Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat), Al-Hukm (hukum), Al-Hikmah (kebijaksanaan), Ar-ruh (ruh), Ar-Rahmat (karunia), At-Tanzil (yang diturunkan), Al-Bayan (penerang), Al-Kalam (ucapan/firman), An-Nur (Cahaya), Al-Busyra (Kabar gembira), Al-Basha'ir (pedoman), Al-Balagh (penyampaian), dan Al-Qaul (perkataan/ucapan).

5). Al-Qur'an terdiri dari 30 juz, 114 surah, 6236 ayat, 74437 kalimat, dan 325345 huruf.

6). Dalam Al-Qur'an, Surah Makkiyah berjumlah 86 dan Surah Madaniyah berjumlah 28.

7). Kata "Al-Qur'an" disebut 70 kali didalam Al-Qur'an.

8). Kata "Allah" disebut 2698 kali didalam Al-Qur'an.

9). Surah terpanjang dalam Al-Qur'an adalah Al-Baqarah.

10). Surah terpendek dalam Al-Qur'an adalah Al-Kautsar.

11). Ayat terpanjang dalam Al-Qur'an adalah Al-Baqarah ayat 282.

12). Surah Al-Fatihah juga dikenal dengan sebutan Ummul Kitab (Induk Al-Qur'an).

13). Surah Yaasiin juga dikenal dengan sebutan Qalbul Qur'an (Jantung Al-Qur'an).

14). Al-Qur'an dilarang di Uni Soviet dari tahun 1926 sampai 1957.

15). Di tahun 1990-an, Saddam Husein meminta seorang seniman kaligrafi untuk membuat Al-Qur'an menggunakan darahnya sebagai tinta.

16). Al-Qur'an terbesar di dunia terdapat di Palembang, Indonesia, yang dipajang di Museum Al-Qur'an Raksasa.

17). Al-Qur'an telah diterjemahkan dalam 103 bahasa di dunia.

18). Kata "Laki-laki (Ar-Rajul)" dan "Wanita (Al-Mar'ah)" muncul dengan jumlah yang sama dalam Al-Qur'an yaitu 24 kali.

19). Bulan terbaik yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah bulan Ramadhan.

20). Makanan yang terbaik untuk dimakan yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah Madu.

21). Minuman yang terbaik untuk diminum yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah Susu.

22). Nama Muhammad disebutkan 4 kali dalam Al-Qur'an.

23). Jum'at adalah satu-satunya hari dalam seminggu yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

24). "Bismillahirrahmaanirrahim" ditulis didepan masing-masing surah di dalam Al-Qur'an kecuali surah At-Taubah, tetapi juga ditulis dua kali di surah An-Naml.

25). Asy-Syams adalah surah yang paling banyak berisi sumpah Allah SWT.

26). Huruf Alif adalah huruf yang paling banyak terdapat dalam Al-Qur'an.

27). Huruf Tho adalah huruf yang paling sedikit terdapat dalam Al-Qur'an.

28). Ada 3 Masjid yang disebutkan dalam Al-Qur'an yaitu Masjidil Haram (Mekkah), Masjid Al-Aqsa (Yerussalem), dan Masjid Quba (dekat Madinah).

29). Nabi yang paling banyak disebut dalam Al-Qur'an adalah Nabi Musa.

30). Kata "Kehidupan (Al-Hayat)" dan "Kematian (Al-Maut)" muncul dengan jumlah yang sama dalam Al-Qur'an yaitu 145 kali.

31). Kata "Dunia (Ad-Dunya)" dan "Akhirat (Al-Akhirah)" muncul dengan jumlah yang sama daam Al-Qur'an yaitu 115 kali.

32). Kata "Malaikat (Al-Malaikat)" dan "Setan (Asy-Syaithan)" muncul dengan jumlah yang sama dalam Al-Qur'an yaitu 88 kali.

33). Maryam adalah satu-satunya wanita yang namanya disebutkan dalam Al-Qur'an.

34). Ada 6 Nabi yang namanya dijadikan sebagai nama Surah dalam Al-Qur'an, yaitu Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Yunus, dan Nabi Muhammad SAW.

35). Ada 7 Binatang yang namanya dijadikan sebagai nama Surah dalam Al-Qur'an, yaitu Al-Baqarah (Sapi Betina), An-Nahl (Lebah), Al-Ankabut (Laba-Laba), An-Naml (Semut), Al-An'am (Hewan Ternak), Al-Adiyat (Kuda Perang), dan Al-Fiil (Gajah).

35 Fakta Istimewa Tentang Al-Qur'an yang Wajib Kamu Ketahui!

A. Pengertian Takabur


Takabur secara bahasa artinya sombong atau membanggakan diri. Sedangkan menurut istilah takabur adalah sikap merasa dirinya lebih daripada orang lain dan memandang rendah orang lain serta tidak mau taat kepada Allah SWT. Sifat takabur hampir sama dengan sifat ujub. Dimana sifat ujub adalah menganggap kelebihan yang ada pada dirinya adalah atas usahanya sendiri, sedangkan sifat takabur menganggap dirinya lebih mampu dan meremehkan orang lain.

Islam sangat melarang umatnya memiliki sifat takabur (sombong) karena kesombongan akan membuka jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dalam lingkungan masyarakat. Di samping itu, kita harus sadar bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian dan titipan Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan manusia untuk menyombongkan diri, bahkan sebaliknya kita harus mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. sebagai nikmat dan karunia.

Ciri Ciri Orang yang Takabur:
a. Suka memuji diri dan membanggakan kemuliaan diri, harta, ilmu, dsb.
b. Meremehkan orang lain
c. Suka mencela dan mengkritik orang lain dengan kritik yang menjatuhkan.
d. Memalingkan muka ketika bertemu dengan orang lain.
e. Berlagak dalam berbicara
f. Pemboros dalam harta benda
g. Berlebih lebihan dalam berpakaian dan berhias

2. Macam Macam Takabur

Takabur dari segi objek atau sasarannya terbagi menjadi 3 macam, yaitu:

a. Takabur kepada Allah
Takabur kepada Allah merupakan bentuk takabur terburuk, seperti yang pernah dilakukan oleh Namrud, Fir'aun, dan sejenisnya.
b. Takabur kepada Rasul
Takabur kepada Rasul yaitu sikap tinggi hati, menolak mengikuti dan mematuhi Nabi, karena menganggapnya sebagai manusia biasa. 
c. Takabur atas sesama Manusia
Takabur atas sesama manusia yaitu dengan membanggakan diri dan meremehkan orang lain. Takabur ini meskipun tidak seberat yang pertama dan kedua, namun masih sangat berbahaya karena kebesaran dan kehormatan hanya milik Allah, selainnya lemah dan terbatas dan ketika seseorang takabur, ia merampas salah satu sifat kebesaran Allah.

Menurut pandangan diatas, secara umum takabur dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

a. Takabur Batini (Takabur dalam Sikap)
Takabur Batini adalah sifat takabur yang tertanam dalam hati seseorang sehingga tidak tampak secara lahir, seperti seseorang yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah, padahal dia mengetahui kebenaran tersebut. 
b. Takabur Zahiri (Takabur dalam Perbuatan)
Takabur Zahiri adalah sifat takabur yang dapat dilihat langsung dengan panca indera, seperti dalam bentuk ucapan dan gerakan anggota tubuh. Contohnya, riya, angkuh, dan memalingkan muka terhadap orang lain. Allah tidak menyukai orang orang yang memalingkan muka (sombong).

3. Contoh Sifat Takabur

1. Suka memuji diri dan membanggakan diri
2. Selalu ingin dipuji
3. Memandang dirinya lebih sempurna daripada siapapun
4. Meremehkan atau merendahkan orang lain
5. Memalingkan muka ketika bertemu dengan orang lain
6. Suka mencela dan mengkritik orang lain dengan maksud menjatuhkan
7. Berlebihan dalam berpakaian
8. Berlagak dalam berbicara
9. Pemboros dalam harta benda
10. Selalu mengecilkan orang lain
11. Sakit hati jika ada yang menyaingi
12. Mementingkan diri sendiri

Sumber: LKS

Pengertian dan Macam Macam Sifat Takabur beserta Cirinya