Social Items

Showing posts with label Agama Islam. Show all posts
Showing posts with label Agama Islam. Show all posts

Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT. yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Al-Mu'min. Al-Mu'min artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Pemberi Rasa Aman. Berikut adalah dalil tentang Al-Mu'min dalam surah Al-An'am ayat 82:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kita harus meneladani sifat Allah yaitu salah satunya adalah Al-Mu'min yang artinya Maha Pemberi Rasa Aman. Berikut adalah cara meneladaninya:

(1). Berusaha Senantiasa Menjaga Ketentraman dan Ketenangan di Lingkungan
Menjaga ketentraman dan ketenangan dimanapun tempatnya merupakan kewajiban kita. Cara kita menjaganya adalah sesama warga harus saling menghormati dan menghargai, jangan saling mencela satu sama lain, mematuhi norma dan peraturan yang berlaku, dan tidak melanggar peraturan di lingkungan tersebut. Kita juga bisa mengikuti Siskamling untuk menjaga keamanan lingkungan.

(2). Tidak Mengganggu Orang Lain
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya, ‘Siapa ya Rasulullah saw.?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya.’"

(3). Senantiasa Mendekatkan Diri kepada Allah
Dengan mendekatkan diri kepada Allah, seperti menjalankan shalat 5 waktu, menjalankan shalat sunnah, mengaji, berpuasa, berzakat, dan lainnya, kita bisa mendapatkan ketenangan hati. Sesungguhnya rasa aman yang kita peroleh itu datangnya hanya dari Allah. Ada orang yang merasa tidak aman walaupun situasinya aman dan tentram, dan sebaliknya ada orang yang merasa tenang/tidak gelisah walaupun situasi dalam keadaan genting dan kacau.

(4). Menjadi Orang yang Beriman dan Selalu Beramal Shalih
Firman Allah dalam surah An-Nur ayat 55:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Sekian tulisan kecil dari saya, semoga bermanfaat dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Mu'min dalam Kehidupan Sehari-hari


Sifat Asmaul Husna As-Salam dalam Kehidupan Sehari-hari Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT. yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut As-Salam. As-Salam artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Sejahtera atau Maha Pemberi Keselamatan. Kali ini kita akan membahas mengenai As-Salam, sifat Allah yang Maha Sejahtera. Berikut adalah dalil tentang As-Salam dalam surah Al-Hasyr ayat 23:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Artinya: Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Kita harus meneladani sifat Allah yaitu salah satunya adalah As-Salam yang artinya Maha Sejahtera atau Maha Pemberi Keselamatan. Bagaimana cara kita meneladaninya?

(1). Membantu Orang dengan Ikhlas
Membantu orang bisa bermacam-macam, kita bisa memulainya dari hal yang kecil (sepele) terlebih dahulu. Misalnya, kita membeli dagangan di pedagang kecil (terutama orang yang tua), mengajarkan sedikit ilmu kepada orang lain, membagi info lowongan kerja di grup chat, dan lain-lain.

(2). Menebarkan Salam dan Senyum
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa "Islam yang baik adalah yang memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal". Banyak sekali orang yang menyepelekan mengucapkan salam, padahal mengucapkan salam termasuk hal yang wajib dan dianjurkan. Misalnya, kita memasuki suatu rumah atau berpapasan dengan teman, disitulah kita harus mengucapkan salam. Selain itu, jangan lupa untuk selalu tersenyum, karena senyum merupakan suatu sedekah dan bisa membuat orang lain disekitar menjadi ikut bahagia.

(3). Tidak Mencela atau Menghina Orang
Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al-Hujuraat ayat 49:
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
"Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)" 

Dalam surah diatas disebutkan bahwa kita tidak boleh saling memanggil orang dengan julukan yang buruk dan mengandung celaan. Misalnya, ada teman kita yang gendut dan kita memanggilnya dengan julukan "gentong". Mungkin sebagian orang mengira itu hanya candaan, tetapi kita tidak mengetahui isi hati orang yang dijuluki julukan tersebut. Bisa saja dia merasa sakit hati karena dipanggil dengan julukan tersebut.
Sebaiknya dianjurkan kita memanggil dengan julukan yang baik dan mengandung pujian. Misalnya memanggil orang lain dengan sebutan "yang mulia","yang 'alim (berilmu)", dan sebagainya.

Sekian tulisan kecil dari saya, semoga bermanfaat dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat yang salah.

Baca Juga :

Sifat Al Mu'min

Sifat Asmaul Husna As-Salam dalam Kehidupan Sehari-hari


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ
"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tahukah kalian apakah ghibah itu?". Sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui". Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam berkata: "Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu", Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam ditanya: "Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya?". Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar berarti engkau telah berdusta atasnya" [Muslim no 2589].
Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah ini adalah engkau menyebutkan kekurangan saudaramu (yang ada pada badannya, nasabnya, akhlaqnya, perbuatannya, agamanya, atau masalah duniawinya), dan menyebutkan aibnya tersebut dihadapan manusia dalam keadaan dia ghaib (tidak hadir).

Adapun menyebutkan kekurangannya yang ada pada badannya, misalnya engkau berkata pada saudaramu itu: "Dia juling", "Dia hitam", "Dia pendek", "Dia gendut", "Dia jelek", dan lain sebagainya.
Dari Aisyah beliau berkata: Aku berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam: "Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu". Sebagian rowi berkata: "Aisyah mengatakan Sofiyah pendek". Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam berkata: "Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya".
Adapun pada nasab misalnya engkau berkata: "Dia keturunan pezina", "Bapaknya adalah seorang maling", dan lain-lain. Adapun pada akhlaknya, misalnya engkau berkata: "Dia sombong", "Dia tukang cari muka", "Dia itu orangnya menyebalkan", dan lain-lain. Adapun pada agamanya, misalnya engkau berkata: "Dia itu orang yang dzolim, tidak pernah salat", "Dia kalau shalat sangat cepat sekali", dan lain-lain. Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan, misalnya engkau berkata: "Dia rakus banyak makan", "Dia orangnya jorok", "Saya lebih suka temenan sama fulan daripada sama dia", dan lain-lain.

Termasuk ghibah yaitu seseorang meniru-niru orang lain, misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau berbicara dengan pura-pura sumbing, yang dalam hal ini berarti merendahkan dia.

*Hukuman Bagi Pelaku Ghibah*
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Maka aku bertanya: "Siapakah mereka ya Jibril?", beliau berkata: "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia".
 Az-Zarkasyi berkata: "Dan sungguh aneh orang yang menganggap bahwasanya memakan bangkai daging (manusia) sebagai dosa besar (tetapi) tidak menganggap bahwasanya ghibah juga adalah dosa besar, padahal Allah menempatkan ghibah sebagaimana memakan bangkai daging manusia. Dan hadits-hadits yang memperingatkan ghibah sangat banyak sekali yang menunjukkan akan kerasnya pengharaman ghibah".

Coba kita pikir lagi, apa gunanya mengghibahi seseorang? Yang ada kita mendapatkan dosa besar, di neraka mendapatkan siksa, dan mencelakakan orang lain (membuat nama buruk orang yang dighibahi serta membencinya). Kita hindari saja ghibah ini, kita bicarakan saja kebaikan orang lain, jangan keburukannya.

*Hukum Mendengarkan Ghibah*
Berkata Imam Nawawi dalam Al-Adzkar: "Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang mengghibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai mengghibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika memungkinkan hal itu".

*Ghibah yang Diperbolehkan*
1). Pengaduan, diperbolehkan bagi orang yang teraniaya mengadu kepada penguasa untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya. Maka dia (boleh) berkata: "Si fulan telah menganiaya saya demikian-demikian".
2). Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku kemaksiatan kepada kebenaran. Maka dia (boleh) berkata kepada orang yang diharapkan kemampuannya bisa menghilangkan kemungkaran: "Si fulan telah berbuat demikian, maka hentikanlah dia dari perbuatannya itu". Dan hendak tujuannya adalah sebagaimana sarananya untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah haram.
3). Meminta fatwa. Misalnya dia berkata kepada seorang mufti: "Bapakku telah berbuat dzolim kepadaku, apakah dia mendapatkan hukuman ini? dan bagaimanakah jalan keluar dari hal ini, agar hakku bisa aku peroleh dan terhindar dari kedzoliman".
4). Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan.
Hingga dikatakan kepada Imam Ahmad: "Seorang laki-laki puasa, shalat, dan beri'tikaf lebih engkau sukai atau membicarakan tentang (kejelekan) ahlul bid'ah?". Maka beliau menjawab: "Jika laki-laki itu shalat dan i'tikaf maka hal itu (kemanfaatannya) adalah untuk dirinya sendiri, dan jika dia membicarakan (kejelekan) ahlul bid'ah maka hal ini adalah demi kaum muslimin, maka hal ini (membicarakan kejelekan ahlul bid'ah) lebih baik".
5). Ghibah dibolehkan kepada seseorang yang terang-terangan menampakan kefasikannya atau kebid'ahannya. Seperti orang yang terang-terangan meminum khamr, mengambil harta manusia dengan dzolim, dan lain sebagainya.

6). Untuk pengenalan. Jika seseorang terkenal dengan suatu laqob (gelar) seperti Al-A'masy (si rabun) atau Al-A'aroj (si pincang), dan yang selainnya maka boleh untuk disebutkan. Dan haram disebutkan dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk mengenali mereka (tanpa harus menyebutkan cacat mereka) maka cara tersebut lebih baik.

Berkata Syaikh Salim Al-Hilali:
a). Bolehnya ghibah untuk hal-hal di atas adalah sifat yang menyusul (bukan hukum asal), maka jika telah hilang 'illahnya (sebab-sebab yang membolehkan ghibah), maka dikembalikan hukumnya kepada hukum asal yaitu haramnya ghibah.
b). Dibolehankannya ghibah ini adalah karena darurat. Oleh karena itu ghibah tersebut diukur sesuai dengan ukurannya (seperlunya saja). Maka tidak boleh berluas-luas terhadap bentuk-bentuk di atas. Bahkan hendaknya orang yang terkena darurat ini (sehingga dia dibolehkan ghibah) untuk bertaqwa kepada Allah dan janganlah dia menjadi termasuk orang-orang yang melampaui batas.

*JADI APA GUNANYA GHIBAH (MEMBICARAKAN ORANG LAIN)?*
Jawabannya tidak ada. Sama sekali tidak ada.

*Akibat dari Ghibah*
1). Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian, karena pahala amal kebaikannya dia berikan kepada orang yang menjadi sasaran ghibahnya.
2). Mengakibatkan putusnya ukhuwah, rusaknya kasih sayang, timbulnya permusuhan, tersebarnya aib, lahirnya kehinaan, dan timbulnya keinginan untuk menyebarkan post keburukan orang lain tersebut.
3). Mendapatkan adzab Allah SWT yang sangat pedih.
4). Kerasnya hati.

Sumber:
a). Buku "Bencana Ghibah" karya Al-Ustadz Ibnu 'Abidin As-Soronji
b). Violetfrostsky atas jawabannya dari Brainly.com

Apa Gunanya Ghibah (Membicarakan Keburukan Orang Lain)?

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Quddus dalam Kehidupan

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Quddus dalam Kehidupan Asmaul Husna adalah nama yang baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT, yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Al-Quddus. Al-Quddus artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Suci. Kali ini kita akan membahas mengenai Al-Quddus, sifat Allah SWT yang Maha Suci. Berikut adalah dalil tentang Al-Quddus pada Al-Hasyr ayat 23:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Artinya: Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Kita harus meneladani sifat Allah yaitu salah satunya adalah Al-Quddus yang artinya Maha Suci. Artinya kita harus bisa mensucikan diri kita dan juga mensucikan nama Allah SWT. Karena Allah SWT sangat menyukai kebersihan dan kesucian. Maka wajib kita untuk selalu suci baik diri kita ataupun lingkungan sekitar kita.

Allah SWT menyuruh kita untuk selalu bersuci dan membersihkan diri, terutama dari najis. Maka dari itu kita diwajibkan berwudhu/bertayamum sebelum shalat. Untuk menghadap Allah SWT, tubuh kita harus bersih dari kotoran dan najis, karena Allah adalah Tuhan yang menciptakan kita, maka dari itu kita harus mensucikan diri dan hati kita saat beribadah kepada-Nya.

Mensucikan diri tidak selalu identik dengan membersihkan najis atau kotoran. Tetapi mensucikan jiwa dan raga dari dosa, dengan cara membersihkan hati kita dari perbuatan keji, dan maksiat, atau juga membersihkan lisan kita dari dusta, perkataan yang buruk dan yang menyakiti hati orang lain.

Selain mensucikan jiwa dan raga, kita juga mesti mensucikan pikiran kita dari niat buruk. prasangka buruk dan nafsu yang kotor. Karena niat yang buruk akan menghasilkan kejahatan dan nafsu yang kotor akan menghasilkan kemaksiatan. Maka dari itu pikiran pun harus kita bersihkan dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan merusak diri kita.

Kita juga harus mensucikan Allah SWT yaitu dengan cara menghindari dari segala sifat yang menunjukkan kekurangan dan celaan yang tidak pantas bagi-Nya. Lalu juga selalu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya dan meniadakan sifat-sifat ketidaksempurnaan bagi-Nya.

Hendaknya kita juga harus senantiasa bertasbih kepada Allah SWT dengan mengucapkan "Subhanallah Wa bihamdihi Subhanallahil Adzim" yang artinya "Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung". Karena dengan bacaan itu juga kita bisa selalu mensucikan nama baik Allah SWT.

Kita harus berterimakasih kepada Allah SWT dan selalu memuji-Nya, karena Dia-lah yang yang telah mensucikan diri kita dari aib dan kekurangan. Walaupun manusia adalah tempatnya salah, lupa, dan selalu berbuat dosa. Maka dari itu kita harus menjadi muslim yang beriman dan bertakwa. Setiap melakukan kesalahan, kita harus mengintropeksi diri kita. Lalu juga selalu bertaubat kepada Allah agar diri kita disucikan dari segala dosa yang selalu menyelimuti.

Sekian tulisan kecil dari saya, semoga bermanfaat untuk kalian semua dan semoga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat. Saya ucapkan terimakasih.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Quddus dalam Kehidupan


Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT, yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Al-Malik. Al-Malik artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Merajai/Menguasai. Kali ini kita akan membahas mengenai Al-Malik, sifat Allah SWT yang Maha Merajai. Berikut adalah dalil tentang Al-Malik pada Al-Jumuah ayat 1:
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Artinya: Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sifat Al-Malik yang berarti Menguasai biasa ditujukan kepada penguasa di bumi. Jikalau kita menjadi pemimpin, kita harus memiliki sifat Al-Malik. Menjadi pemimpin dengan baik dan benar, tidak sombong dan sewenang-wenang jika memimpin. Karena sifat sombong dan sewenang-wenang akan dibenci oleh Allah SWT.

Kita juga harus menyadari bahwa kekuasaan manusia sangatlah terbatas. Karena pada akhirnya kekuasaan tersebut akan digantikan oleh orang lain, tidak seperti kekuasaan Allah SWT yang bersifat abadi. Karena Dia-lah yang menguasai alam semesta beserta bumi seisinya atau segalanya. Jadi kita pun adalah milik Allah SWT, jadi Dia-lah yang berhak memerintah atau melarang sesuatu.

Selain itu juga kita harus menguasai diri kita sendiri, menguasai dari hawa nafsu dan hal-hal yang bersifat keduniawian. Karena dunia ini semuanya hanyalah sandiwara dan penuh tipu daya. Jangan sampai kita tergila-gila dengan kedudukan atau jabatan, karena kedudukan atau jabatan di dunia tidak mempengaruhi kedudukanmu di akhirat kelak.

Selain menguasai diri dari hawa nafsu, kita juga harus menguasai diri dari amarah. Karena sifat amarah sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Kecuali jika marah dalam hal yang baik, seperti orangtua yang marah jika anaknya tidak shalat, atau marah yang dilakukan untuk membela agama.

Sebagai pemimpin atau penguasa, ia juga harus bisa menguasai diri sendiri terlebih dahulu. Karena jika tidak dapat menguasai diri sendiri, maka kekuasaannya bisa jatuh ketangan orang lain. Agar dapat menguasai diri, kita harus banyak bersyukur atas segala hal yang diberikan oleh-Nya, baik itu rezeki atau kenikmatan. Karena tanpa kehendak-Nya, kita tidak berarti apa-apa.

Kesimpulan dari semua ini, kita harus bisa menguasai diri sendiri karena menguasai diri sendiri itu lebih sulit daripada menguasai orang lain. Belum tentu seorang pemimpin dunia bisa menguasai dirinya sendiri. Karena masih banyak pemimpin di dunia ini yang bersifat sewenang-wenang, arogan, tidak peduli pada rakyatnya, dan lain-lain. Oleh karena itu sifat kepemimpinan itu sangat penting bagi diri kita.

Sekian tulisan kecil dari saya, semoga bermanfaat untuk kalian semua dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat. Saya ucapkan terimakasih.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Al-Malik dalam Kehidupan Sehari-hari


Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT. yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Ar-Rahiim. Ar-Rahiim artinya ialah yang memiliki sifat mutlak Maha Penyayang. Kali ini kita akan membahas mengenai Ar-Rahiim, sifat Allah SWT. yang maha penyayang. Berikut adalah dalil tentang Ar-Rahiim pada Al-Ahzab ayat 43:
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
 Artinya: Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Banyak yang mengatakan bahwa arti dari Ar-Rahman dan Ar-Rahim itu hampir sama. Tetapi ada perbedaan sedikit mengenai hal itu. Kalau Ar-Rahman (Maha Pengasih) yaitu meliputi seluruh makhluk hidup baik yang beriman atau kafir, seperti Allah memberi alam semesta ini untuk hidup. Kalau Ar-Rahim (Maha Penyayang) lebih meliputi ke hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh.

Allah memiliki sifat Dzat Maha Penyayang, maka dari itu kita juga harus memiliki sifat penyayang tersebut. Kita harus menyayangi sesama manusia, atau hewan, dan tumbuhan. Kita juga harus menyayangi Allah SWT. dengan cara beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Kita diciptakan oleh Allah SWT. itu merupakan sebuah anugerah dan rasa sayang-Nya kepada kita semua, maka itu kita wajib beriman kepada-Nya.

Banyak sekali contoh-contoh perilaku Ar-Rahiim, seperti:
(1). Menyayangi sesama antar manusia, seperti menyayangi keluarga, menyayangi teman, menyayangi tetangga. Kalau ada saudara kita yang sakit kita harus menjenguknya, kalau ada saudara kita yang sedih kita harus menghiburnya, dan kalau saudara kita melakukan kesalahan kita harus mengingatkannya sebagai rasa kasih sayang kita kepada mereka.
(2). Menyayangi hewan seperti memberikan makan hewan setiap hari, kalau hewan peliharaan kita sakit kita harus membawanya ke dokter, dan kalau hewan kita diberi kandang kita harus merawat kandang tersebut hingga bersih dari kotoran.
(3). Rasa sayang kepada lingkungan seperti menjaga lingkungan hingga bersih, terus merawat lingkungan, merawat pohon-pohon yang ada, memungut sampah ke tong sampah.
(4). Menyayangi tumbuhan dengan cara merawatnya.

Dan banyak lagi contoh lainnya, selain perilaku tersebut kita juga harus menyayangi diri sendiri, selalu berprasangka baik kepada diri sendiri, berperilaku terpuji kepada diri sendiri. Karena dengan mencintai diri sendiri kita akan merasa bahagia dan terlepas dari dengki/iri.

Kesimpulan dari semua ini, kita jadi lebih bisa menyayangi siapapun di dunia ini baik itu kepada Allah SWT, sesama manusia, hewan, tumbuhan, lingkungan, atau diri kita sendiri. Semoga kita semua dipermudah untuk meneladani sifat Ar-Rahiim ini. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Ar-Rahim dalam Kehidupan Sehari-hari


Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam, yang juga merupakan sumber hukum utama dalam ajaran agama Islam. Al-Qur'an berisi tentang wahyu-wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantaraan Malaikat Jibril. Berikut adalah 35 fakta istimewa tentang Al-Qur'an yang wajib kamu ketahui!

1). Kata Al-Qur'an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan".

2). Ayat Al-Qur'an diturunkan pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira yaitu Al-'Alaq ayat 1-5 (Wahyu pertama Rasulullah SAW).

3). Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

4). Al-Qur'an mempunyai beberapa nama lain yaitu, Al-Furqan (pembeda mana yang baik dan benar), Adz-Dzikr (pemberi peringatan), Al-Huda (petunjuk), Asy-Syifa (penyembuh/penawar), Al-Kitab, Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat), Al-Hukm (hukum), Al-Hikmah (kebijaksanaan), Ar-ruh (ruh), Ar-Rahmat (karunia), At-Tanzil (yang diturunkan), Al-Bayan (penerang), Al-Kalam (ucapan/firman), An-Nur (Cahaya), Al-Busyra (Kabar gembira), Al-Basha'ir (pedoman), Al-Balagh (penyampaian), dan Al-Qaul (perkataan/ucapan).

5). Al-Qur'an terdiri dari 30 juz, 114 surah, 6236 ayat, 74437 kalimat, dan 325345 huruf.

6). Dalam Al-Qur'an, Surah Makkiyah berjumlah 86 dan Surah Madaniyah berjumlah 28.

7). Kata "Al-Qur'an" disebut 70 kali didalam Al-Qur'an.

8). Kata "Allah" disebut 2698 kali didalam Al-Qur'an.

9). Surah terpanjang dalam Al-Qur'an adalah Al-Baqarah.

10). Surah terpendek dalam Al-Qur'an adalah Al-Kautsar.

11). Ayat terpanjang dalam Al-Qur'an adalah Al-Baqarah ayat 282.

12). Surah Al-Fatihah juga dikenal dengan sebutan Ummul Kitab (Induk Al-Qur'an).

13). Surah Yaasiin juga dikenal dengan sebutan Qalbul Qur'an (Jantung Al-Qur'an).

14). Al-Qur'an dilarang di Uni Soviet dari tahun 1926 sampai 1957.

15). Di tahun 1990-an, Saddam Husein meminta seorang seniman kaligrafi untuk membuat Al-Qur'an menggunakan darahnya sebagai tinta.

16). Al-Qur'an terbesar di dunia terdapat di Palembang, Indonesia, yang dipajang di Museum Al-Qur'an Raksasa.

17). Al-Qur'an telah diterjemahkan dalam 103 bahasa di dunia.

18). Kata "Laki-laki (Ar-Rajul)" dan "Wanita (Al-Mar'ah)" muncul dengan jumlah yang sama dalam Al-Qur'an yaitu 24 kali.

19). Bulan terbaik yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah bulan Ramadhan.

20). Makanan yang terbaik untuk dimakan yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah Madu.

21). Minuman yang terbaik untuk diminum yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah Susu.

22). Nama Muhammad disebutkan 4 kali dalam Al-Qur'an.

23). Jum'at adalah satu-satunya hari dalam seminggu yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

24). "Bismillahirrahmaanirrahim" ditulis didepan masing-masing surah di dalam Al-Qur'an kecuali surah At-Taubah, tetapi juga ditulis dua kali di surah An-Naml.

25). Asy-Syams adalah surah yang paling banyak berisi sumpah Allah SWT.

26). Huruf Alif adalah huruf yang paling banyak terdapat dalam Al-Qur'an.

27). Huruf Tho adalah huruf yang paling sedikit terdapat dalam Al-Qur'an.

28). Ada 3 Masjid yang disebutkan dalam Al-Qur'an yaitu Masjidil Haram (Mekkah), Masjid Al-Aqsa (Yerussalem), dan Masjid Quba (dekat Madinah).

29). Nabi yang paling banyak disebut dalam Al-Qur'an adalah Nabi Musa.

30). Kata "Kehidupan (Al-Hayat)" dan "Kematian (Al-Maut)" muncul dengan jumlah yang sama dalam Al-Qur'an yaitu 145 kali.

31). Kata "Dunia (Ad-Dunya)" dan "Akhirat (Al-Akhirah)" muncul dengan jumlah yang sama daam Al-Qur'an yaitu 115 kali.

32). Kata "Malaikat (Al-Malaikat)" dan "Setan (Asy-Syaithan)" muncul dengan jumlah yang sama dalam Al-Qur'an yaitu 88 kali.

33). Maryam adalah satu-satunya wanita yang namanya disebutkan dalam Al-Qur'an.

34). Ada 6 Nabi yang namanya dijadikan sebagai nama Surah dalam Al-Qur'an, yaitu Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Yunus, dan Nabi Muhammad SAW.

35). Ada 7 Binatang yang namanya dijadikan sebagai nama Surah dalam Al-Qur'an, yaitu Al-Baqarah (Sapi Betina), An-Nahl (Lebah), Al-Ankabut (Laba-Laba), An-Naml (Semut), Al-An'am (Hewan Ternak), Al-Adiyat (Kuda Perang), dan Al-Fiil (Gajah).

35 Fakta Istimewa Tentang Al-Qur'an yang Wajib Kamu Ketahui!

A. Pengertian Takabur


Takabur secara bahasa artinya sombong atau membanggakan diri. Sedangkan menurut istilah takabur adalah sikap merasa dirinya lebih daripada orang lain dan memandang rendah orang lain serta tidak mau taat kepada Allah SWT. Sifat takabur hampir sama dengan sifat ujub. Dimana sifat ujub adalah menganggap kelebihan yang ada pada dirinya adalah atas usahanya sendiri, sedangkan sifat takabur menganggap dirinya lebih mampu dan meremehkan orang lain.

Islam sangat melarang umatnya memiliki sifat takabur (sombong) karena kesombongan akan membuka jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dalam lingkungan masyarakat. Di samping itu, kita harus sadar bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian dan titipan Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan manusia untuk menyombongkan diri, bahkan sebaliknya kita harus mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. sebagai nikmat dan karunia.

Ciri Ciri Orang yang Takabur:
a. Suka memuji diri dan membanggakan kemuliaan diri, harta, ilmu, dsb.
b. Meremehkan orang lain
c. Suka mencela dan mengkritik orang lain dengan kritik yang menjatuhkan.
d. Memalingkan muka ketika bertemu dengan orang lain.
e. Berlagak dalam berbicara
f. Pemboros dalam harta benda
g. Berlebih lebihan dalam berpakaian dan berhias

2. Macam Macam Takabur

Takabur dari segi objek atau sasarannya terbagi menjadi 3 macam, yaitu:

a. Takabur kepada Allah
Takabur kepada Allah merupakan bentuk takabur terburuk, seperti yang pernah dilakukan oleh Namrud, Fir'aun, dan sejenisnya.
b. Takabur kepada Rasul
Takabur kepada Rasul yaitu sikap tinggi hati, menolak mengikuti dan mematuhi Nabi, karena menganggapnya sebagai manusia biasa. 
c. Takabur atas sesama Manusia
Takabur atas sesama manusia yaitu dengan membanggakan diri dan meremehkan orang lain. Takabur ini meskipun tidak seberat yang pertama dan kedua, namun masih sangat berbahaya karena kebesaran dan kehormatan hanya milik Allah, selainnya lemah dan terbatas dan ketika seseorang takabur, ia merampas salah satu sifat kebesaran Allah.

Menurut pandangan diatas, secara umum takabur dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

a. Takabur Batini (Takabur dalam Sikap)
Takabur Batini adalah sifat takabur yang tertanam dalam hati seseorang sehingga tidak tampak secara lahir, seperti seseorang yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah, padahal dia mengetahui kebenaran tersebut. 
b. Takabur Zahiri (Takabur dalam Perbuatan)
Takabur Zahiri adalah sifat takabur yang dapat dilihat langsung dengan panca indera, seperti dalam bentuk ucapan dan gerakan anggota tubuh. Contohnya, riya, angkuh, dan memalingkan muka terhadap orang lain. Allah tidak menyukai orang orang yang memalingkan muka (sombong).

3. Contoh Sifat Takabur

1. Suka memuji diri dan membanggakan diri
2. Selalu ingin dipuji
3. Memandang dirinya lebih sempurna daripada siapapun
4. Meremehkan atau merendahkan orang lain
5. Memalingkan muka ketika bertemu dengan orang lain
6. Suka mencela dan mengkritik orang lain dengan maksud menjatuhkan
7. Berlebihan dalam berpakaian
8. Berlagak dalam berbicara
9. Pemboros dalam harta benda
10. Selalu mengecilkan orang lain
11. Sakit hati jika ada yang menyaingi
12. Mementingkan diri sendiri

Sumber: LKS

Pengertian dan Macam Macam Sifat Takabur beserta Cirinya


Asmaul Husna adalah nama baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT. yang semuanya berjumlah 99. Diantara nama baik tersebut, ada yang disebut Ar-Rahmaan. Ar-Rahmaan disini mempunyai banyak arti ada yang berkata bahwa artinya suatu nikmat yang panjang dan ada juga yang mengartikannya sebagai Maha Pengasih atau Maha Pemurah. Kali ini kita akan membahas mengenai Ar-Rahmaan, sifat Allah SWT. sebagai Dzat yang Maha Pengasih. Berikut adalah dalil tentang Ar-Rahman pada Al Fatihah ayat 1:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ
Artinya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kita harus meneladani betul sifat Ar-Rahman, yaitu dengan cara menjadi orang yang selalu mengasihi antar sesama makhluk hidup ciptaan Allah SWT.  (1). Pertama-tama kita yang mempunyai kecukupan harta harus menjadi orang yang dermawan. Menjadi orang yang selalu membantu orang lain di saat kesusahan saat tidak mempunyai uang atau juga mengasihi kepada anak yatim atau piatu. Karena dengan sifat dermawan kita, kita akan disenangi banyak orang. Asal saja jangan sampai kita merasa Riya' yaitu sombong kecil dalam hati, karena itu akan merusak amal yang telah kita lakukan.

(2). Lalu dengan cara tolong menolong antar sesama seperti membantu orang lain yang membutuhkan, seperti contoh ada korban gempa yang kehilangan rumahnya, disitulah kita harus memiliki sifat tolong menolong dalam hati kita untuk membantu orang yang kesusahan itu. Sama seperti sifat dermawan, sifat tolong menolong juga akan banyak orang yang suka dengan sifat kita.

Rasulullah saw bersabda: "Bukanlah dari golongan kami orang yg tidak mengasihi dan menyayangi yg lebih muda, tidak menghormati orang yg lebih tua." (HR Tirmidzi).

Makna Ar-Rahman yang berarti mengasihi bukan berarti untuk sesama manusia. Ini juga berlaku untuk makhluk ciptaan Allah SWT. seperti hewan dan tumbuhan. Kita harus mengasihi kepada hewan seperti contoh ada hewan yang kelaparan kita harus mengasihi dia makan. Kita juga harus mengasihi kepada tumbuhan seperti contoh kita harus merawat tumbuhan dan melestarikannya.

Lalu Apa Manfaat Kita Meneladani Sifat Ar-Rahmaan?

1). Hati kita akan menjadi tentram dan tidak gelisah.
2). Semua hal akan menjadi damai. Karena kalau kita sesama manusia saling mengasihi satu sama lain tidak akan ada kerusuhan. Semuanya akan menjadi damai, tidak ada peperangan atau konflik.
3). Kita akan selalu dikasihi dan disayangi oleh Allah.
4). Hidup akan menjadi lebih bermakna dan bahagia.
5). Kalau kita saling mengasihi, semoga itu bisa menjadi contoh bagi orang lain yang melihat kita. Jadi, sifat saling mengasihi itu bisa tertular ke orang lain dan kita akan mendapatkan banyak pahala. Aamiin.

Kesimpulannya dengan meneladani sifat Ar-Rahman ini, kita bisa menjadi lebih dermawan dan membangun sifat tolong menolong antar sesama di hati kita. Semoga kita semua dipermudah untuk meneladani sifat Ar-Rahman ini. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.

Meneladani Sifat Asmaul Husna Ar-Rahman dalam Kehidupan Sehari-hari

A. Pengertian Shalat Sunnah

Sholat Jamaáh-MediaOnlinemu

Shalat Sunnah adalah shalat yang dikerjakan di luar shalat yang di fardhukan. Shalat sunnah apabila dikerjakan mendapat pahala, tetapi bila tidak dikerjakan tidak berdosa. Shalat Sunnah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan untuk mendapatkan tambahan pahala.

Shalat Sunnah atau yang sering disebut dengan shalat nawafil merupakan shalat yang dianjurkan untuk dikerjakan, namun hukumnya tidak wajib. Jadi apabila seseorang mengerjakan shalat sunnah maka ia akan mendapatkan pahala, jika tidak dikerjakan pun ia juga tidak mendapatkan dosa. Namun sangat disayangkan jika shalat sunnah tidak dikerjakan karena kita tidak mendapatkan pahala. Berdasarkan hukumnya, shalat sunnah ada 2 macam, yaitu shalat sunnah Muakadah dan shalat sunnah Gairu Muakadah.

Shalat sunnah Muakadah merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan (hampir mendekati shalat wajib). Contoh shalat sunnah muakadah adalah shalat hari raya Idul Fitri, shalat hari raya Idul Adha, shalat sunnah Witir, dan shalat sunnah Tawaf.
Sedangkan shalat sunnah Gairu Muakadah merupakan shalat yang dianjurkan untuk dilakukan tapi tidak mendekati wajib. Contoh shalat sunnah Gairu Muakadah yakni shalat sunnah rawatib.

Ada waktu waktu tertentu dimana kita dilarang atau diharamkan untuk melakukan shalat, yaitu sebagai berikut:
a. Ketika matahari terbit hingga ia naik setinggi lembing
b. Ketika matahari berada tepat di puncaknya hingga mulai condong (Kecuali di hari Jum'at)
c. Ketika waktu sesudah Asar hingga terbenamnya matahari.
d. Ketika setelah shubuh
e. Keika matahari terbenam hingga benar benar matahari terbenam.

B. Shalat Sunnah Berjamaah

Shalat sunnah berjamaah adalah shalat sunah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan persyaratan tertentu. Shalat sunnah berjamaah bisa dikerjakan di lapangan, masjid, mushala, surau, atau langgar. Semakin banyak makmumnya, shalat sunnah berjamaah semakin baik dan utama. Shalat sunnah berjamaah sangat dianjurkan oleh agama, karena pahalanya sangat besar bila dibandingkan dengan shalat sendirian (Munfarid). Pahala shalat berjamaah dilipatkan menjadi 27 kali lipat pahala shalat sendirian (Munfarid).

Berikut ini ada beberapa shalat sunnah berjamaah:

a. Shalat Istisqa'
Shalat Istisqa' yaitu shalat sunnah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT. agar diturunkan hujan. Shalat ini dilaksanakan pada saat musim kemarau panjang. Caranya dapat dilakukan dengan:
1). Dengan berdoa baik sendiri sendiri atau beramai ramai
2). Berdoa dalam khotbah jum'at
3). Yang paling sempurna adalah dengan melakukan shalat istisqa'. Dalam sebuah hadits menjelaskan bahwa Rasulullah SAW. telah keluar pergi untuk meminta hujan lalu beliau berpaling membelakangi orang banyak. Beliau menghadap kiblat dan beliau balikkan selendang beliau.

Sebelum melaksanakan shalat, semua orang baik laki laki, perempua, tua muda, bahkan orang lemah pun diusahakan untuk ikut ke lapangan. Sebelum itu hendaklah salah seorang diantara mereka (tokoh) memberikan nasehat agar mereka bertobat dari segala dosa, dan berhenti dari kezaliman dan segera beramal kebajikan.

Sebelum pergi kelapangan hendaklah mereka berpuasa empat hari berturut turut. Pada hari ke empat mereka menuju lapangan dengan pakaian yang sederhana. Mereka berjalan tenang serta merendahkan diri dengan penuh harap pertolongan Allah SWT. Kemudian khatib berdiri dan berkhotbah yang dimulai dengan bacaan istighfar, hamdalah, serta syahadat seperti dalam shalat Jum'at. Didalam khotbah hendaknya khatib mengajak jamaah untuk bertobat dan menerangkan bahwa Allah Maha Pemurah kepada seluruh hamba-Nya jika hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam berdoa dan memohon kepada-Nya. Kemudian berdoa, setelah berdoa, dilanjutkan dengan melaksanakan shalat 2 rakaat tanpa adzan dan iqamah. Pada rakaat pertama membaca Surah Al-A'la setelah Al Fatihah dan pada rakaat kedua membaca surah Al Ghasyiyah.

b. Shalat Idain (Id)
Ketentuan shalat Idain adalah shalat yang dilakukan pada waktu hari raya, karena dalam tradisi Islam terdapat 2 hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, maka dalam satu tahun terdapat dua shalat Id. Dalam bahasa arab Idain berarti dua shalat id. Hukum melaksanakan shalat Idain adalah sunnah muakad yang artinya sangat dianjurkan.

Waktu melaksanakan shalat Idain adalah mulai terbit matahari sampai tergelincirnya matahari menjelang waktu dzuhur pada hari raya tersebut. Shalat Idul Fitri dilaksanakan pada tanggal 1 syawal, sedangkan shalat Idul Adha dilaksanakan pada tanggal 10 dzulhijjah. Tempat pelaksanaannya adalah di masjid atau di tempat lapang yang luas. 

Secara garis besar, tata cara pelaksanaan shalat Idain adalah sebagai berikut:
1). Dilaksanakan secara berjamaah, tidak didahului adzan dan iqamah.
2). Jumlah rakaatnya adalah 2 rakaat, membaca takbir 7 kali pada rakaat pertama dan takbir 5 kali pada rakaat yang kedua.
3). Imam mengeraskan bacaan (jahran)
4).Setelah shalat Idain dilanjutkan dengan khotbah.

Disamping tata cara diatas, dalam pelaksanaan shalat Idain juga dianjurkan (disunnahkan)untuk melakukan hal hal sebagai berikut:
1). Imam membaca surah Qaf pada rakaat pertama dan surah Al-Qamar pada rakaat kedua, atau membaca surah Al-A'la pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.
2). Mandi dan berhias memakai pakaian yang bagus.
3). Disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat melakukan shalat Idul Fitri, sebaliknya dalam shalat Idul Adha disunnahkan makan sesudah Shalat Idul Adha.
4). Memperbanyak membaca dan mengumandangkan takbir dan tahmid pada waktu hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

c. Shalat Khusuf dan Kusuf
Shalat Khusuf adalah shalat sunnah yang dilakukan ketika terjadi gerhana bulan, sedangkan shalat Kusuf adalah shalat yang dilakukan ketika terjadi gerhana matahari. Pelaksanaan shalat ini boleh berjamaah atau sendiri, dengan cara sebagai berikut:
1). Berdiri dengan niat shalat gerhana ketika takbir, lalu membaca surah Al Fatihah dan surah pilihan kemudian rukuk lalu berdiri kembali dan membaca surah Al Fatihah dan surah pilihan yang kedua kali, lalu rukuk, i'tidal, dan sujud dua kali. Yang demikian terhitung 1 rakaat. Kemudian diteruskan rakaat kedua seperti rakaat pertama, dan diakhiri dengan salam. Jadi shalat gerhana ini dilaksanakan dua rakaat, empat kali membaca surah Al-Fatihah dan surah pilihan, empat kali rukuk, empat kali sujud.
2). Cara kedua sama seperti cara pertama hanya saja berdiri agak lama dengan membaca surah yang panjang dan rukuknya agak lama. Surah Al-Fatihah dan surah pilihan dibaca dengan suara keras baik gerhana matahari atau bulan. Hal ini karena Rasulullah SAW. mengeraskan suara pada waktu shalat gerhana. Sebagian ulama berpendapat bahwa untuk gerhana bulan dengan suara keras, sedangkan untuk gerhana matahari tidak dikeraskan.
3). Cara yang ketiga sama seperti melaksanakan shalat sunnah yang lain. Setelah shalat dilanjutkan dengan khotbah yang isinya antara lain menyuruh manusia bertobat dari perbuata dosa dan menyuruh beramal kebaikan.

C. Shalat Sunnah Munfarid

Shalat sunnah munfarid artinya shalat sunnah yang dilaksanakan sendiri, tanpa imam dan juga makmum. Ketentuan shalat munfarid sama dengan ketentuan shalat pada umumnya yaitu memenuhi syarat dan rukun shalat serta cuci badan, pakaian, tempat dari hadas maupun najis.

Berikut ini adalah beberapa contoh shalat sunnah munfarid:

a. Shalat Rawatib
Shalat rawatib yaitu shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu baik dikerjakan sebelum atau sesudah shalat fardhu. Shalat rawatib yang dikerjakan sebelum shalat fardhu disebut shalat qabliyah, dan shalat yang dikerjakan sesudah shalat fardhu disebut shalat ba'diyah.
Shalat rawatib tersebut adalah:
1). 2 atau 4 Rakaat sebelum dzuhur
2). 2 rakaat setelah dzuhur
3). 2 rakaat sesudah maghrib
4). 2 rakaat sesudah isya
5). 2 rakaat sebelum shalat shubuh

b. Shalat Istikharah
Shalat istikharah adalah shalat dua rakaat dgn maksud memohong petunjuk dari Allah SWT. dalam menentukan pilihan terbaik diantara dua pilihan/ lebih. 
Tata cara pelaksanaannnya adalah:
1). Jumlah rakaatnya 2 rakaat
2). Dilaksanakan secara munfarid
3). Waktunya boleh pagi, siang, atau malam hari.

c. Shalat Tahiyatul Masjid
Shalat tahiyatul masjid adalah shalat 2 rakaat yang dilaksanakan sesaat kita memasuki masjid. Hukum melaksanakannya ialah sunnah.
Tata cara pelaksanaannya adalah:
1). Jumlah rakaatnya 2 rakaat
2). Dilaksanakan secara munfarid
3). Waktunya setiap saat kita memasuki masjid.

D. Shalat Sunnah Berjamaah atau Munfarid

a. Shalat Tahajud
Shalat Tahajud merupakan shalat lail (shalat yang dikerjakan pada malam hari). Shalat ini dilaksanakan pada malam hari untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Shalat Tahajud merupakan shalat sunnah yang dikerjakan setelah tidur pada malam hari antara waktu shalat Isya' sampai dengan fajar sidiq (menjelang shubuh).Namun waktu yang paling utama melaksanakan shalat Tahajud adalah dua pertiga malam. sekitar pukul 02.00 dini hari. Hukum melaksanakan shalat ini adalah sunnah muakad.

Tata cara melaksanakan shalat ini adalah:
1). Waktu pelaksanannya setelah shalat Isya sampai dengan fajar sidiq (menjelang waktu Shubuh) dan setelah tidur.
2). Jumlah rakaatnya paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak tidak dibatasi.
3). Dilaksanakan sendirian (Munfarid) atau berjamaah, lebih utama setiap dua rakaat salam.
4). Apabila dilaksanakan empat rakaat tidak ada tasyahud awal, sehingga tidak menyerupai shalat fardhu.

b. Shalat Tarawih
Shalat Tarawih adalah shalat sunnah yang dilaksanakan khusus pada malam hari bulan Ramadhan. Shalat Tarawih merupakan amalan sunnah pada bulan Ramadhan. Hukum melaksanakan shalat Tarawih adalah sunnah Muakad artinya sangat dianjurkan.
Tata cara pelaksanaan shalat Tarawih, yaitu:
1). Waktu pelaksanaannya setelah Shalat Isya' sampai dengan fajar sidiq (menjelang waktu subuh)
2). Diutamakan secara berjamaah tetapi boleh juga dilaksanakan sendirian.
3). Lebih utama setiap 2 rakaat salam. Namun apabila dilaksanakan 4 rakaat tidak perlu ada tasyahud awal supaya tidak menyerupai shalat fardhu.

c. Shalat Witir
Shalat witir adalah shalat yang jumlah bilangan rakaatnya ganjil. Paling sedikit 1 rakaat dan paling banyak 11 rakaat. Shalat witir tidak hanya dilakukan setelah shalat Tarawih di bulan Ramadhan. Namun pada malam hari di luar bulan Ramadhan umat islam pun dianjurkan untuk melaksanakan shalat witir sebagai penutup shalat sunnah di malam hari. Hukum melaksanakannya ialah sunnah muakad.
Tata cara pelaksanaan shalat Witir, yaitu:
1). Waktunya pada malam hari setelah shalat Isya'
2). Dilaksanakan secara berjemaah atau sendirian
3). Jumlah rakaatnya ganjil

d. Shalat Dhuha
Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dilaksanakan pada waktu pagi hari, mulai dari saat memutihnya cahaya matahari pagi sampai sebelum waktu istiwa' (Siang hari saat matahari tepat arahnya diatas kepala). Jadi kira kira mulai pukul 07.00 pagi sampai pukul 11.00 siang. Hukum melaksanakannya ialah sunnah.
Tata cara pelaksanaan shalat dhuha, yaitu:
1). Jumlah rakaatnya paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak 12 rakaat.
2). Dilaksanakan secara jemaah atau munfarid
3). Lebih utama 2 rakaat salam.

Sumber: LKS

Pengertian dan Ketentuan Shalat Sunnah Berjamaah

A. Shalat Jamak


1. PENGERTIAN SHALAT JAMAK
Shalat Jamak adalah mengumpulkan dua shalat fardu dan dikerjakan dalam satu waktu, pada waktu yang awal atau yang akhir. Maksud dikumpulkan adalah mengerjakan dua shalat sekaligus dalam satu waktu shalat. Misalnya, shalat maghrib dan isya dikerjakan pada waktu maghrib atau waktu isya. Kebolehan mengerjakan shalat dengan cara jamak adalah sebagaimana hadis Rasulullah SAW. yaitu sebagai berikut yang artinya:
"Bahwasanya Rasulullah SAW. apabila berangkat sebelum tergelincir matahari beliau mengakhirkan dzuhur ke waktu asar. Pada waktu asar beliau berhenti lalu menjamak antara keduanya. Apabila beliau berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau mengerjakan dahulu shalat dzuhur sesudah itu barulah berangkat (H.R. Bukhari dan Muslim)"
 Dalam mengerjakan shalat jamak, perlu diperhatikan waktu shalat yang boleh dijamak dan yang tidak boleh dijamak. Waktu-waktu shalat yang boleh dijamak adalah shalat dzuhur dengan asar, dan shalat maghrib dan isya.

Shalat Jamak ada dua macam, yaitu jamak takdim dan jamak takhir.

a. Jamak Takdim
Jamak takdim adalah mengerjakan dua shalat fardu sekaligus yang dikerjakan dalam satu waktu, yaitu pada waktu awal.
Contoh: -Shalat maghrib dan Isya dikerjakan pada waktu shalat maghrib

b. Jamak Takhir
Jamak Takhir adalah mengerjakan dua shalat fardu sekaligus yang dikerjakan dalam satu waktu, yaitu pada waktu akhir.
Contoh: -Shalat maghrib dan Isya dikerjakan pada waktu shalat isya

2. SYARAT SAH SHALAT JAMAK
Apabila seseorang melakukan shalat Jamak, harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan syarak. Jika syarat syarat tidak terpenuhi, maka shalatnya tidak sah. Adapun syarat syaratnya adalah sebagai berikut.
1). Berniat ingin mengerjakan shalat jamak takdim/takhir
2). Shalat yang dijamak takdim/takhir dikerjakan secara berurutan.
3).Tidak diselingi kegiatan apapun antara shalat yang pertama dan kedua. Maksud kegiatan yaitu dzikir, bercanda, berbicara

3. ORANG YANG DIBOLEHKAN MELAKUKAN SHALAT JAMAK
a. Orang yang sedang dalam keadaan sakit
b. Orang yang sedang bepergian jauh
c. Jamaah haji ketika akan berangkat Muzdalifah

4. CARA MENGERJAKAN SHALAT JAMAK

a. Shalat Jamak Takdim
1). Jika yang dijamak shalat maghrib dan isya, caranya ialah didahului dengan niat mengerjakan shalat jamak takdim maghrib dan isya, kemudian mengerjakan shalat maghrib dahulu seperti biasa, dan dilanjutkan dengan shalat isya. Shalat maghrib dan isya tersebut dikerjakan pada waktu maghrib.
2). Jika yang dijamak shalat dzuhur dan asar, caranya ialah didahului dengan niat mengerjakan shalat jamak takdim dzuhur dan asar, kemudian mengerjakan shalat dzuhur dahulu seperti biasa, dan dilanjutkan dengan asar. Shalat dzuhur dan asar dikerjakan pada waktu dzuhur.

b. Shalat Jamak Takhir
1). Jika yang dijamak shalat maghrib dan isya, caranya ialah didahului dengan niat mengerjakan shalat jamak takhir maghrib dan isya, kemudian mengerjakan shalat maghrib dahulu seperti biasa, kemudian dilanjutkan dengan shalat isya. Shalat maghrib dan isya tersebut dikerjakan pada waktu isya.
2). Jika yang dijamak shalat dzuhur dan asar, caranya ialah didahului dengan niat mengerjakan shalat dengan jamak takhir dzuhur dan asar, kemudian mengerjakan shalat dzuhur dahulu seperti biasa, kemudian dilanjutkan dengan shalat asar. Shalat dzuhur dan asar tersebut dikerjakan pada waktu asar.

ADAPUN NIATNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
1). Niat Shalat Jamak Takdim Dzuhur dan Asar
أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِأربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع العَصْرِ اَدَاءً للهِ تَعَالى

2). Niat Shalat Jamak Takdim Maghrib dan Isya
أُصَلِّي فَرْضَ العشاء أربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع المغرب جمع تقديم اَدَاءً للهِ تَعَالى

3). Niat Shalat Jamak Takhir Dzuhur dan Asar
أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِأربع رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع العَصْرِ اَدَاءً للهِ تَعَالى

4). Niat Shalat Jamak Takhir Maghrib dan Isya
أُصَلِّي فَرْضَ المغرب ثلاث رَكعَاتٍ مَجْمُوْعًا مع العشاء جمع تاخير اَدَاءً للهِ تَعَالى

Note: Untuk niat Shalat Jamak yang lain kamu tinggal mengganti nama shalatnya dan waktu serta jumlah rakaatnya!

B. Shalat Qashar

1. PENGERTIAN SHALAT QASHAR
Shalat Qashar adalah meringkas bilangan rakaat shalat fardhu, yang empat rakaat diringkas menjadi dua rakaat. Maka, shalat fardhu yang jumlah rakaatnya kurang dari empat tidak boleh diqashar, misalnya shalat maghrib, dan shalat subuh. Mengerjakan shalat fardhu dengan qashar, boleh dilakukan bagi orang yang telah memenuhi syarat untuk mengqashar. 

2. SYARAT SAH SHALAT QASHAR
a. Berniat ingin mengqasar shalatnya
b. Shalat yang diqasar meliputi shalat yang dibolehkan, yaitu shalat dzuhur, shalat ashar, dan shalat isya.
c. Perjalanan yang ditempuh memenuhi syarat untuk mengqasar shalat, yaitu minimal 76,8 km (jika ditempuh dengan jalan kaki)
d. Perjalanan yang ditempuh bertujuan baik seperti bersilaturahmi.

3. ORANG YANG DIBOLEHKAN MENGQASHAR SHALAT
Meskipun ada keringanan dari Allah untuk shalat dengan cara qashar, namun tidak semua orang diperbolehkan mengqashar shalat. Seseorang dibolehkan mengqashar shalat apabila dalam keadaan sakit, tidak aman, atau dalam bepergian jauh.

4. CARA MENGERJAKAN SHALAT QASHAR
Shalat Qashar berarti melaksanakan shalat fardhu yang jumlah rakaatnya empat menjadi dua. Cara melaksanakannya seperti ketika melaksanakan shalat shubuh. Yang membedakan disini adalah niatnya. Adapun niatnya seperti berikut:

اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

Yang diatas ini untuk shalat dzuhur, kalau ingin yang lain tinggal diganti nama shalatnya dan jumlah rakaatnya.

C. Shalat Jamak Qashar

1. PENGERTIAN SHALAT JAMAK QASHAR
Shalat dengan jamak qashar adalah mengerjakan shalat dengan dijamak sekaligus diqasar. Apabila bepergian jauh, seseorang dibolehkan mengerjakan shalat dengan menjamak dan sekaligus mengqasarnya. Maksudnya, mengerjakan dua shalat fardu dalam satu waktu, sekaligus meringkas bilangan rakaatnya, baik pada waktu yang awal (jamak takdim) maupun pada waktu yang akhir (jamak takhir).

2. CARA MENGERJAKAN SHALAT JAMAK QASHAR

a. Shalat Jamak Takdim dengan Qashar
1). Shalat Dzuhur dan Asar
Cara mengerjakannya: Yaitu shalat dzuhur dua rakaat, kemudian dilanjutkan shalat asar dua rakaat. Shalat Dzuhur dan asar dikerjakan pada waktu dzuhur. Bacaan dan gerakannya seperti shalat fardhu, yang berbeda hanya niatnya.
2). Shalat Maghrib dan Isya
Cara mengerjakannya: Yaitu shalat maghrib tiga rakaat, kemudian dilanjutkan shalat isya dua rakaat. Shalat maghrib dan isya dikerjakan pada waktu maghrib. Bacaan dan gerakannya seperti shalat fardhu, yang berbeda hanya niatnya.

Niatnya: 
أصلي فرض الظهر جمع تقديم بالعصر قصرا ركعتين لله تعالي

b. Shalat Jamak Takhir dengan Qashar
Contoh shalat Jamak Takhir dengan Qashar adalah shalat maghrib dan Isya. Cara mengerjakannya yaitu shalat maghrib dahulu tiga rakaat, kemudian dilanjutkan shalat isya dua rakaat. Shalat maghrib dan isya ini, dikerjakan pada waktu isya. Gerakan dan bacaannya seperti shalat maghrib dan isya, yang berbeda hanya niatnya.

Niatnya: 
أصلي فرض الظهر جمع تأخير بالعصر قصرا ركعتين لله تعالي


Sumber: LKS

Pengertian, Tata Cara, dan Niat Shalat Jamak dan Qasar,

A. Pengertian Shalat Jum'at

Syarat Rukun Lengkap Mengenai Shalat Jum'at -MediaOnlinemu
Syarat Rukun Lengkap Mengenai Shalat Jum'at  Shalat Jum'at adalah shalat berjamaah yang terdiri atas 2 rakaat, dilakukan pada waktu dzuhur di hari Jum'at dengan didahului dua khutbah. Hukum shalat Jum'at adalah wajib atas orang yang memenuhi persyaratan tertentu.

Firman Allah dalam Q.S. Al Jumu'ah ayat 9 yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui"

B. Ketentuan Shalat Jum'at

1. Syarat Wajib Shalat Jum'at
Syarat wajib Shalat Jum'at adalah syarat syarat yang mewajibkan seseorang untuk mengerjakan shalat jum'at. Jika seseorang termasuk didalamnya maka ia wajib shalat jum'at dan jika tidak mengerjakan shalat jum'at, ia berdosa. Adapun hal hal yang merupakan syarat wajib shalat jum'at adalah sebagai berikut:
a. Beragama Islam
b. Laki-laki
c. Sudah baligh
d. Berakal sehat
e. Sehat untuk mendatangi shalat Jum'at (Tidak sakit)
f. Menetap (Bermukim) disuatu negeri (tidak wajib atas orang yang dalam perjalanan jauh/musafir)

2. Syarat Sah Shalat Jum'at
Syarat sah shalat jum'at adalah syarat yang harus dipenuhi agar shalat jum'at sah. Jika tidak dipenuhi (Salah satu saja), maka shalat jum'at tersebut tidak sah.
Syaratnya ialah sebagai berikut:
a. Diadakan di suatu tempat yang sudah menetap.
Sedangkan jika kita berpindah untuk shalat jum'at di tempat yang lain, misalkan ketika kita bepergian, tetaplah sah shalat jum'atnya.
b. Dilaksanakan pada waktu dzuhur. 
c. Dikerjakan secara berjamaah
d. Sebelumnya diadakan khutbah yang terdiri atas dua khutbah.

3. Rukun Khutbah
Khutbah harus dilakukan oleh orang yang memenuhi syarat. Khutbah dilaksanakan setelah masuk waktu dzuhur dengan memenuhi rukun rukunnya, yaitu sebagai berikut:
a. Mengucapkan syukur kepada Allah swt. pada permulaan setiap khutbah dengan ucapan "Alhamdulillah"
b. Membaca Syahadat
c. Membaca Shalawat Nabi
d. Berwasiat agar bertakwa kepada Allah swt.
e. Membaca ayat Al-Qur'an pada masing masing khutbah.
f. Berdoa pada khutbah kedua untuk keselamatan seluruh kaum muslimin.

4. Sunah Shalat Jum'at
a. Mandi sebelum berangkat ke masjid.
b. Memakai pakaian yang bagus.
c. Memakai wangi-wangian
d. Memotong kuku dan menyisir rambut.
e. Segera pergi ke masjid dengan berjalan kaki.
f. Sementara menunggu khutbah, dianjurkan membaca Alquran atau berdzikir.

5. Halangan Shalat Jum'at
Pengertian halangan disini adalah beberapa hal yang menyebabkan seseorang boleh meninggalkan shalat Jum'at. Namun, dia tetap harus melaksanakan shalat dzuhur, yaitu:
a. Hamba Sahaya
b. Perempuan
c. Anak-anak
d. Orang sakit.

Sumber :LKS

Baca Juga :
Tentang Sholat Sunnah

Syarat Rukun Lengkap Mengenai Shalat Jum'at

Seni dan kebudayaan Islam yang berkembang di seluruh kepulauan Indonesia banyak dipengaruhi oleh kebudayaan kebudayaan yang sudah lama berada di kesukuan tersebut. Selain itu, kebudayaan Islam di Indonesia berkembang setelah terjadi akulturasi (pencampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi) dengan kebudayaan yang ada pada saat itu. Hal itu dikarenakan dalam proses penyebaran Islam di antaranya dengan cara pendekatan sosial budaya. Unsur budaya setempat, seperti tulisan, arsitektur, bahasa, dan kesenian yang bernilai Islami juga dilakukan oleh para mubalig dalam menyebarkan agama Islam di kepulauan Indonesia, seperti di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa. Contohnya, adat Makeuta dari Sumatra, yaitu adat yang berlaku dikalangan masyarakat yang merupakan hasil perpaduan antara adat lokal yang telah berlaku sejak nenek moyang masyarakat Aceh dengan adat yang didasari nilai-nilai agama Islam.


Dengan demikian, seni budaya di Nusantara tersebut merupakan bagian dari tradisi Islam. Diantara seni budaya lokal yang merupakan tradisi Islam antara lain:

A. Seni Musik

1). Gamelan Jawa
Musik gamelan di Jawa yang ternyata berbeda dengan gamelan Bali. Setelah tersentuh oleh para wali yang mengembangkan Islam dengan mengakomodasi budaya lokal dan memolesnya dengan nilai-nilai Islam, gamelan Jawa terdengar lebih tenang dan lembut. Adapun gamelan Bali tampak eksotis karena musik-musik ini memang dipakai untuk mengiringi persembahan kepada para Dewa. Dengan suara yang lembut pada gamelan Jawa diharapkan dapat menimbulkan rasa tenang untuk bertafakur mengabdi kepada Tuhan. Demikian halnya yang terdapat pada gamelan Sunda dan Madura yang mayoritas masyarakatnya memeluk Islam. Berbeda dengan gamelan Bali dengan agama Hindu yang dianut masyarakatnya. Kondisi ini tentunya akan berlainan jika Islam tidak berkembang di Jawa, Madura, maupun Sunda, hingga masyarakatnya tetap memeluk agama Hindu.

2). Qosidah
Qosidah berasal dari kata "qasidah" (bahasa Arab), artinya "lagu atau nyanyian". Namun arti qosidah selanjutnya menunjuk kepada lagu dan musik dengan ciri tersendiri, yaitu lagu dnegan syair-syair bertemakan agama Islam atau dakwah Islam. Qosidah diadakan dengan maksud untuk memberikan hiburan musik dan seniman muslim berkreasi dengan maksud tertentu, misalnya rekreasi (hiburan), menyemarakan hari-hari besar Islam dan dakwah Islam.

Seni qosidah lahir bersamaan dengan kelahiran Islam. Untuk pertama kalinya, qosidah ditampilkan oleh kaum Ansar (penolong Nabi Muhammad SAW. dan sahabat sahabatnya dari kaum Muhajirin dalam perjalanan hijrah dari tanah kelahirannya (Mekah) ke Yatsrib (Madinah). Pada saat itu beberapa kaum Ansar menyambut kedatangan Nabi dan mendendangkan lagu-lagu pujian diiringi dengan lantunan musik rebana. Lagu-lagu pujian saat itu pun melegenda hingga hari ini sebagai lagu klasik dan masih dapat dinikmati hingga sekarang.

Qosidah merupakan kesenian yang diapresiasi oleh kalangan ulama dan pesantren. Qosidah menunjukkan grup kesenian dengan alat musik yang paling pokok adalah rebana, kecrek, dan sebagainya. Satu grup kesenian qosidah terdiri atas lima hingga enam orang dengan memainkan rebana berbagai ukuran, dari yang paling kecil hingga rebana yang paling besar, ditambah dengan alat kecrek. Pada perkembangan selanjutnya kesenian qosidah dapat dimainkan dengan alat kesenian lainnya sesuai keterampilan seniman itu sendiri.

Dari segi isi syair lagu-lagu pada seni qosidah, para ulama membuat batasan, bahwa lagu qosidah haruslah mengandung pesan sebagai berikut:
a). Mendorong orang untuk beribadah dan taat kepada Allah.
b). Mendorong keimanan kepada Allah.
c). Mendorong orang agar memiliki etos kerja tinggi dan berjiwa patriotis.
d). Tidak menampilkan pornografi maupun porno-aksi.
e). Tidak menampilkan syair yang cengeng.
f). Mendorong agar menjauhi gaya hidup mewah serta riya.
g). Mendorong orang untuk bertindak amar ma'ruf dan nahi mungkar.

B. Seni Arsitektur

Bukti sangat kentara adanya proses akulturasi budaya lokal dengan budaya Islam tampak pada beberapa bangunan masjid sebagai tempat peribadatan. Bangunan masjid yang berdiri di beberapa daerah menunjukkan arsitektur lokal. Misalnya bangunan Masjid Demak, Masjid Kudus, dan Masjid Sunan Ampel. Arsitektur Masjid Agung Demak merupakan arsitektur khas Nusantara. Atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki berbeda dengan atap masjid yang ada di Timur Tengah. Atap Masjid di Timur Tengah lebih terbiasa dengan kubah. Kubah tidak terdapat diatap Masjid Demak. Bentuk bangunan masjid tradisional Jawa Tengah. Bentuk bangunan Masjid Demak justru mengadopsi model bangunan tempat peribadatan agama Hindu. Hal ini dimaksudkan untuk membumikan masjid sebagai tempat peribadatan umat Islam di tengah pemeluk agama Hindu. Ini merupakan bukti bahwa budaya lokal mengalami akulturasi dengan budaya Islam yakni di bidang arsitektur.

C. Seni Rupa

Salah satu seni rupa kuno yang mudah kita temukan di tanah air adalah seni ukir. Ukiran-ukiran yang menjadi hiasan ornamen pada masjid tidak sedikit yang menggabungkan antara seni ukir lokal dengan kaligrafi Arab. Ada juga yang berbentuk simbol-simbol tertentu yang mengandung pesan ajaran Islam.

D. Kaligrafi

Kaligrafi adalah menulis ndah dengan merangkaikan huruf-huruf Arab atau ayat suci Al-Qur'an sesuai bentuk yang diinginkan. Kaligrafi sebagai motif hiasan dapat dijumpai di masjid-masjid kuno, seperti ukiran yg terdapat di Masjid di daerah Jepara.

E. Seni Pertunjukan

Kesenian wayang berkembang sebelum masuknya Islam di Pulau Jawa. Kesenian wayang yang berkembang yaitu berupa wayang. Gedok dan wayang Purwa dengan cerita Mahabarata dan Ramayana. Ketika Islam baru masuk di Pulau Jawa, para Mubalig bersikap toleran dengan adat-istiadat lama. Tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam diteruskan dan disesuaikan dengan ajaran Islam, termasuk seni wayang.

F. Seni Tari

Di beberapa daerah di Indonesia terdapat bentuk-bentuk tarian yang berkaitan dengan bacaan shalawat. Misalnya pada seni rebana tari tari Zapin, bacaan shalawat dengan menggunakan lagu lagu tertentu.

G. Seni Sastra

1). Hikayat, adalah cerita atau dongeng yang ceritanya penuh dengan keajaiban dan keanehan. Tidak jarang hikayat berpangkal pada tokoh-tokoh sejarah atau peristiwa yang benar benar terjadi.
2). Babad, adalah dongeng yang sengaja diubah sebagai cerita sejarah. Dalam babad, tokoh, tempat, dan peristiwa hampir semua ada dalam sejarah, tetapi penggambarannya dilakukan secara berlebihan. Contohnya Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Giyanti, dan Babad Pakepung.
3). Suluk, adalah kitab kitab yang menguraikan soal tasawuf. Kitab suluk sangat menarik karena sifatnya panteisme, yaitu menjelaskan tentang bersatunya manusia dengan Tuhan (mangunggaling kawulo lan Gusti). Pujangga-pujangga kerajaan dan para wali banyak menghasilkan karya-karya sastra jenis suluk ini, antara lain:
  • Sunan Bonang mengembangkan ilmu suluk dalam bentuk puisi yang dibukukan dalam kitab bonang.
  • Hamzah Fansuri menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi yang bernafaskan keislaman. Contoh: Syair Perahu dan Syair Dagang
  • Syekh Yusuf, Seorang ulama Makassar yang diangkat sebagai pujangga kerajaan Banten, berhasil menulis beberapa buku tentang tasawuf.
Sumber :LKS

Macam-Macam Seni Budaya Lokal Bernuansa Islami